Me, My life, My Everything

Me, My life, My Everything
An industrial engineer!
Tampilkan postingan dengan label ergonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ergonomi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Januari 2013

Antropometri

Antropometri adalah pengetahuan yang menyangkut pengukuran tubuh manusia, khususnya dimensi tubuh. Istilah antropometri berasal dari “anthro” yang berarti manusia dan “metri” yang berarti ukuran. Secara definitif antropometri dapat dinyatakan sebagai studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia. Manusia pada dasarnya akan memiliki bentuk, ukuran (tinggi, lebar dan sebagainya) yag berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Antropometri secara luas akan digunakan sebagai pertimbangan- pertimbangan ergonomis dalam memerlukan interaksi manusia. Data antropometri akan menentukan bentuk, ukuran dan dimensi yang berkaitan dengan produk yang dirancang dan manusia yang akan mengoperasikan atau menggunakan produk tersebut. Dalam kaitan ini maka perancang produk harus mampu mengakomodasikan dimensi tubuh dari populasi terbesar yang akan menggunakan produk hasil rancangannya tersebut.
Antropometri menurut Stevenson (1989) dan Nurmianto (1991) adalah satu kumpulan data numerik yang berhubungan dengan karakteristik  fisik tubuh manusia ukuran, bentuk, dan kekuatan serta penerapan data tersebut untuk penanganan masalah desain. Perbedaan antara satu populasi dengan populasi lainnya dipengaruhi beberapa faktor yaitu:
a.    Umur
     Ukuran tubuh manusia akan berkembang dari saat lahir sampai sekitar 20 tahun untuk pria dan 17 tahun untuk wanita. Ada kecenderungan berkurang setelah 60 tahun.
b.    Jenis kelamin
     Pria pada umumnya memiliki dimensi tubuh yang lebih besar kecuali bagian dada dan pinggul.
c.    Suku bangsa atau etnis
     Variasi akan terjadi karena pengaruh etnis. Setiap etnis memiliki dimensi tubuh yang berbeda dikarenakan daerah tempat tinggalnya.
d.   Pekerjaan
     Selain faktor di atas, aktivitas manusia sehari-hari menyebabkan perbedaan ukuran tubuh manusia
e.    Pakaian
Tebal/tipisnya pakaian yang digunakan untuk faktor iklim yang berbeda akan memberikan variasi yang berbeda-beda.
f.     Faktor kehamilan pada wanita
     Kondisi kehamilan akan mempengaruhi bentuk dan ukuran tubuh.
g.    Cacat tubuh secara fisik
     Cacat tubuh, dimana data antropometri disini akan diperlukan untuk perancangan produk bagi orang-orang cacat, seperti kursi roda, kaki atau tangan palsu dan lainnya

Tiga prinsip Dalam Penggunaan Data Antropometri
Tiga prinsip dalam pemakaian data dalam perancangan, yaitu :
1.      Perancangan fasilitas berdasarkan individu yang ekstrim.
Prinsip ini digunakan apabila kita mengharapkan agar fasilitas yang dirancang tersebut dapat dipakai dengan enak dan nyaman oleh sebagian besar orang-orang yang akan memakainya  (biasanya minimal oleh  95% pemakai).
Dalam perancangan ini rancangan produk dibuat agar bisa memenuhi dua sasaran produk yaitu :
a.       Biasa sesuai dengan untuk ukuran tubuh manusia yang mengikuti klasifikasi ekstrim dalam arti terlalu besar atau terlalu kecil bila dibandingkan dengan rata-ratanya.
b.      Tetap bisa digunakan untuk memnuhi ukuran tubuh yang lain (mayoritas dari populasi yang ada).
     Agar bisa memenuhi sasaran pokok tersebut maka ukuran yang diaplikasikan diterapkan dengan cara:
a.       Untuk dimensi minimum yang harus ditetapkan dari suatu rancangan produk umumnya didasarkan pada nilai percentiles yang terbesar seperti 90-th, 95-th atau 99-th percentile.
b.      Untuk dimensi maksimim yang harus ditetapkan diambil berdasarkan nilai percentile yang plaling rendah (1-th, 5-th,10-th percentile) dari distribusi data natropometri yang ada. Hal ini diterapkan dalm penetapan jarak jangkau dari suatu mekanisme kontrol yang harus dioperasikan oleh seorang pekerja.
Secara umum aplikasi data antropometri untuk perancangan produk ataupun fasilitas kerja akan menetapkan nilai 2-th percentile untuk dimensi maksimum dan 95-th untuk dimensi minimumnya.
Contoh: ketinggian kontrol maksimum sesuai dengan jangkauan keatas dari oarng pendek. Ketinggian kontrol minimum sesuai dengan buku jari dari orang tinggi. Penglihatan yang jelas sesuai dengan tinggi mata orang pendek. Tinggi atap di atas tempat duduk orang pendek. Tinggi tempat duduk sesuai dengan panjang kaki orang pendek. Lebar tempat duduk sesuai dengan lebar pinggul orang gemuk. Tinggi pintu sesuai dengan orang tinggi. Jangkauan maksimum sesuai dengan orang pendek.
2.      Perancangan fasilitas yang bisa disesuaikan.
Prinsip ini digunakan untuk merancangan suatu fasilitas agar fasilitas tersebut bisa menampung atau bisa dipakai dengan enak dan nyaman oleh semua orang yang mungkin memerlukannya. Disini rancangan bisa dirubah-rubah ukurannya sehingga cukup fleksibel dioperasikan oleh setiap orang yang memiliki berbagai macam ukuran tubuh.
Contoh:
Kursi pengemudi mobil bisa diatur maju mundur dan kemiringan sandarannya dan tinggi  kursi sekretaris atau tinggi permukaan mejanya.
Dalam kaitannya untuk mendapatkan rancanagan yang fleksibel, semacam ini maka data natropometri yang umum diaplikasikan adalah dalam rentang nilai 5-th s/d 95-th percentile.
3.   Perancangan fasilitas berdasarkan harga rata-rata para pemakainya.
Prinsip ini digunakan apabila perancang berdasarkan harga ekstrim tidak mungkin dilaksanakan dan tidak layak jika kita menggunakan prinsip perancangan fasilitas yang bisa disesuaikan. Prinsip berdasarkan harga ekstrim tidak mungkin dilaksanakan bila lebih banyak rugi daripada untungnya artinya hanya sebagian kecil dari orang-orang yang merasa enak dan nyaman ketika menggunakan fasilitas tersebut. Sedangkan jika fasilitas tersebut dirancang berdasarkan fasilitas yang bisa disesuaikan tidak layak karena mahal harganya.
Dalam hal ini rancangan produk didasarkan tehadap rata-rata ukuran manusia.
Problem pokok yang dihadapkan dalam hal ini justru sedikit sekali yang berbeda dalam ukuran rata-rata.
Contoh:
Pada perancangan maianan anak-anak maka digunakan harga rata-rata dari ukuran dimensi tubuh anak-anak.Berkaitan dengan aplikasi data antropometri yang diperlukan dalam proses perancangan produk ataupun fasilitas kerja, maka ada beberapa sasaran/rekomendasi yang bisa diberikan sesuai dengan langkah-langkah seperti berikut:
1.    Pertama kali terlebih dahulu harus ditetapkan anggota tubuh yang mana yang nantinya akan difungsikan untuk mengoperasikan rancangan tersebut.
2.    Tentukan dimensi tubuh yang penting dalam proses perncanagan tersebut, dalam hal ini juga diperlukan apakah harus menggunakan data structural body dimension ataukah function body dimension.
3.    Selanjutnya tentukan popilasi terbesar yang harus diantisipasi diakomodasi dan menjadi target utama pemakai rancanagan produk tersebut. Hal ini lazim dikenal sebagai “market segmen station” seperti produk mainan unutk anak-anak, peralatan rumah tangga untuk wanita, dll.
4.    Tetapkan prinsip ukuran yang harus diikuti apakah rancangan tersebut untuk ukuran individual ekstrim, rentang ukuran yang fleksibel atau ukuran rata-rata.
5.    Pilih persentase populasi yang harus diikuti: 90-th, 95-th, 99-th ataukah nilai percentile yang lain yang dikehendaki.
6.    Untuk setiap dimensi tubuh yang telah didentifikasi selanjutnya pilih/tetapkan nilai ukurannya dari tabel data  antropometri yang sesuai.


Referensi:

Nurmianto, Eko. Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya. Edisi 1. Jakarta: Guna Widya. 1998.

Sutalaksana, Iftikar Z. Teknik Perancangan Kerja. Bandung: Penerbit ITB. 2005.

Wignosoebroto, Sritomo. Ergonomi, Studi Gerak, dan Waktu: Teknik Analisis untuk Peningkatan Produktivitas Kerja. Edisi 1. Surabaya: Guna Widya. 2000.

Ergonomi

Pengertian Ergonomi
Ergonomi atau ergonomics (bahasa Inggris) berasal dari bahasa Yunani yaitu Ergo yang bearti kerja dan Nomos yang berarti hukum atau aturan. Dengan demikian ergonomi dimaksudkan sebagai disiplin keilmuwan yang mempelajari manusia dalam kaitannya dengan pekerjaannya. Disiplin ergonomi khusus akan mempelajari keterbatasan dan kemampuan manusia dalam berinteraksi dengan teknologi dan produk-produk buatannya. Disiplin ini berangkat dari kenyataan bahwa manusia memiliki keterbatasan kemampuan (baik dalam jangka waktu pendek maupun panjang) pada saat berhadapan dengan lingkungan sistem kerjanya yang berupa perangkat keras (mesin, peralatan kerja, dan lainnya).

Dengan demikian terlihat jelas bahwa ergonomi suatu keilmuwan yang multi disiplin, karena disini akan mempelajari pengetahuan-pengetahuan dari Ilmu Kehayatan (Kedokteran, Biologi), Ilmu Kejiwaan (Psikologi), Ilmu Teknik (Engineering), dan Kemasyarakatan (Sosiologi). Pada prinsipnya disiplin ergonomi akan mempelajari apa akibat-akibat jasmani, kejiwaan, dan sosial dari teknologi dan produk-produknya terhadap manusia. Karena yang dipelajari adalah dampak dari teknologi dan produknya, maka pengetahuan yang khusus yang berkaitan dengan teknologi seperti Biomekanika, Antropometri Teknik, Teknologi produksi, lingkungan fisik (temperatur, pencahayaan, dan lainnya).

Ergonomi adalah suatu cabang ilmu yang sistematis untuk memanfaatkan informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan serta keterbatasan manusia untuk merancang suatu sistem kerja yang baru maupun merancang perbaikan suatu sistem kerja yang telah ada sehingga orang dapat hidup dan bekerja pada system tersebut dengan baik yaitu mencapat tujuan yang dilakukan dengan efektif, aman, sehat, nyaman dan efisien. Ergonomi yang merupakan ilmu perancangan berbasis manusia (Human Centerd Design) dirasakan menjadi semakin penting hingga saat ini. Dengan penerapan ergonomi, manusia tidak lagi harus menyesuaikan dirinya dengan mesin yang dioperasikan (the man fits to the design), melainkan mesin yang dirancang dengan terlebih dahulu memperhatikan kelebihan dan keterbatasan manusia yang mengoperasikannya (the design fits to the man).

Tipe-tipe Masalah Ergonomi
Masalah ergonomi sangat erat kaitannya dengan alat, aktivitas, serta produk yang dihasilkan oleh manusia.
Tipe-tipe masalah ergonomi antara lain adalah:
1.      Perancagan produk, fasilitas, lingkungan kerja.
Hal ini berkaitan dengan penggunaan antropometri (dimensi ukuran manusia) untuk merancang produk, fasilitas dan lingkungan kerja yang nyaman untuk pemakainya. Serta pengaturan lingungan kerja yang memperhatikan faktor fisik dan psikologis yang mempengaruhinya.
2.      Pengaturan postur kerja.
Hal ini berkaitan dengan pengaturan postur kerja agar tidak timbulnya kelelahan atau cedera (musculoskeletal) pada pekerja sehinnga tidak mengganggu produktivitas maupun kinerja dari pekerja tersebut.
3.      Kebutuhan energi, konsumsi oksigen serta keadaan tubuh pekerja.
Hal ini berkaitan dengan fisiologi yang merupakan ilmu yang memperhatikan fungsi dari organ tubuh manusia. Masalah ini perlu diperhatikan agar kondisi tubuh pekerja tidak mengalami kerja yang berlebihan ataupun penetapan beban kerja yang sesuai sehingga tidak mengganggu kesehatan pekerja.
Masalah-masalah tersebut dapat diselesaikan dengan pendekatan ilmu ergonomi karena ilmu ergonomi didasarkan pada ilmu psikologi, antropologi, fisiologi, biologi, sosiologi fisika dan lainnya. Ergonomi bertujuan untuk menciptakan kondisi kerja yang efektif, aman, sehat, nyaman dan efisien.

Tujuan Ergonomi
 Penerapan ergonomi memiliki beberapa tujuan yaitu:
1.   Mendapatkan suatu pengetahuan yang utuh tentang permasalahan-permasalahan interaksi manusia dengan teknologi dan produk-produknya sehingga memungkinkan adanya suatu rancangan sistem manusia-mesin yang optimal.
2.   Memperbaiki performansi kerja manusia seperti menambah kecepatan kerja, accuracy, keselamatan kerja disamping untuk mengurangi datangnya kelelahan yang terlalu cepat.
3.   Memperbaiki pendayagunaan sumber daya manusia serta meminimalkan kerusakan peralatan yang disebabkan kesalahan manusia.
4.   Menigkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan cedera dan penyakit akibat krja, menurunkan beban kerja fisik dan mental, dan mengupayakan kepuasan kerja.
5.   Menciptakan keseimbangan rasional antara berbagai aspek yaitu aspek teknis, ekonomis, anatropologis dan budaya dari setiap sistem kerja yang dilakukan sehingga tercipta kualitas kerja dan kualitas hidup yang tinggi dengan prinsip efektif, aman, nyaman, sehat dan efisien (EASNE).

Aplikasi Ergonomi
Ergonomi dapat diaplikasikan dalam beberapa hal, antara lain yaitu:
1.   Aplikasi ergonomi untuk efisiensi, efektivitas produktivitas seperti penentuan batas beban yang diangkat secara manual oleh manusia, jam istirahat, shift kerja.
2.   Perancangan produk sesuai data antropometri.
3.   Pengaturan sikap kerja (postur kerja) untuk mencegah terjadinya kelelahan dan cedera.
4.   Perancangan lingkungan kerja ataupun stasiun kerja.
5.   Perancangan fasilitas kerja seperti peralatan material haru diletakkan didepan dan berekatan dengan posisi operator bekerja.
Ergonomi tidak hanya dapat diaplikasikan pada lingkungan kerja (industri) tetapi juga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya pada lingkungan rumah yaitu peletakan barang-barang sesuai dengan tempatnya agar mudah dicapai.

Referensi:
Sutalaksana, Iftikar Z. Teknik Perancangan Kerja. Bandung: Penerbit ITB. 2005.
Wignosoebroto, Sritomo. Ergonomi, Studi Gerak, dan Waktu: Teknik Analisis untuk Peningkatan Produktivitas Kerja. Edisi 1. Surabaya: Guna Widya. 2000.


Biomekanika

Biomekanika adalah ilmu yang menggunakan hukum-hukum fisika dan konsep-konsep mekanika untuk mendeskripsikan gerakan dan gaya pada berbagai macam bagian tubuh ketika melakukan aktivitas. Biomekanika dapat didefinisikan sebagai bidang ilmu aplikasi mekanika pada sistem biologi. Biomekanika merupakan kombinasi antara disiplin ilmu mekanika terapan dan ilmu-ilmu biologi dan fisiologi. Biomekanika menyangkut tubuh manusia dan hampir semua tubuh mahluk hidup. Dalam biomekanika prinsip-prinsip mekanika dipakai dalam penyusunan konsep, analisis, disain dan pengembangan peralatan dan sistem dalam biologi dan kedokteran.Pada dasarnya biomekanika adalah cabang ilmu yang relatif baru dan sedang berkembang secara dinamis. Akan tetapi sebenarnya bidang ilmu sudah eksis sejak abad ke lima belas masehi ketika Leonardo Da Vinci (1452-1519) membuat catatan akan siginikansi mekanika dalam penelitian-penelitian biologi yang dia lakukan. Kontribusi dari para peneliti dalam bidang ilmu biologi, kedokteran, ilmu-ilmu dasar, dan teknik mewarnai perkembangan biomekanika akhir-akhir ini.
Biomekanika dalam hal ini sangat berhubungan dengan pekerjaan yang bersifat material handling, seperti pengangkatan dan pemindahan secara manual, atau pekerjaan lain yang dominan menggunakan otot tubuh. Meskipun kemajuan teknologi telah banyak membantu aktivitas manusia, namun tetap saja ada beberapa pekerjaan manual yang tidak dapat dihilangkan dengan pertimbangan biaya maupun kemudahan. Pekerjaan ini membutuhkan usaha fisik sedang hingga besar dalam durasi waktu kerja tertentu, misalnya penanganan atau pemindahan material secara manual. Usaha fisik ini banyak mengakibatkan kecelakaan kerja ataupun low back pain, yang menjadi isu besar di negara-negara industri belakangan ini.

Keterkaitan Biomekanika dengan Ergonomi
Untuk mengetahui keterkaitan antara ilmu biomekanika dengan ilmu ergonomi, sebelumnya kita harus mengetahui terlebih dahulu definisi dari ilmu ergonomi itu sendiri. Ergonomi adalah suatu cabang ilmu yang sistematis untuk memanfaatkan informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan serta keterbatasan manusia untuk merancang suatu sistem kerja yang baru maupun merancang perbaikan suatu sistem kerja yang telah ada. Dengan diterapkannya ergonomi, sistem kerja dapat menjadi lebih produktif dan efisien.
Ergonomi yang merupakan ilmu perancangan berbasis manusia (Human Centered Design) dirasakan menjadi semakin penting hingga saat ini. Hal tersebut disebabkan:
1.      Manusia sebagai sumber daya utama dalam sebuah sistem.
2.      Adanya regulasi nasional maupun internasional mengenai sistem kerja dimana manusia terlibat di dalamnya.
3.      Para pekerja adalah human being.

Referensi:
Sutalaksana, Iftikar. 1979. Teknik Tata Cara Kerja. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Nurmianto, Eko. 1996. Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya. Surabaya: Guna Wijaya.
Pulat, B. Mustafa. 1992. Fundamental of Industrial Ergonomics, Oklahoma Prentice hall.




Sampling Kerja

Sampling pekerjaan (work sampling) adalah suatu prosedur pengukuran yang dilakukan pada waktu tertentu secara acak yang dikembangkan berdasarkan hukum probabilitas, dimana pengamatan yang dilakukan menggunakan sampel yang diambil secara random. Pengambilan sampel dibenarkan karena adanya keterbatasan waktu, tenaga dan biaya yang tidak memungkinkan kita untuk melakukan pengamatan terhadap seluruh anggota populasi. Sampling pekerjaan sangat cocok digunakan dalam melakukan pengamatan atas pekerjaan yang sifatnya tidak berulang dan memiliki siklus waktu yang relatif panjang. Sampling dilakukan secara sesaat-sesaat pada waktu-waktu yang ditentukan secara acak. Oleh karena itu penggunaan tabel acak sangat diperlukan dalam metode ini.
Sebelum melakukan sampling, terlebih dahulu kita harus melakukan langkah persiapan awal yang terdiri atas pencatatan segala informasi dari semua fasilitas yang ingin diamati serta merencanakan jadwal waktu pengamatan berdasarkan prinsip randomisasi (aplikasi tabel acak). Setelah itu melakukan sampling yang terdiri dari tiga langkah yaitu melakukan sampling pendahuluan, menguji keseragaman data dan menghitung jumlah kunjungan kerja.
Untuk mendapatkan hasil pengukuran yang dapat dipertanggung jawabkan secara statistik, perlu ditempuh langkah-langkah yang dijalankan sebelum sampling dilakukan, yaitu:
1.      Menetapkan tujuan pengukuran yaitu untuk apa sampling dilakukan, yang akan menentukan besarnya tingkat ketelitian dan tingkat keyakinan yang diinginkan dari hasil pengukuran tersebut.
2.      Jika Sampling dilakukan untuk mendapatkan waktu baku, lakukanlah penelitian pendahuluan untuk mengetahui ada tidaknya suatu sistem kerja yang baik, jika belum ada lakukan perbaikan atas kondisi dan cara kerja terlebih dahulu.
3.      Memilih operator–operator yang representatif untuk diukur.
4.      Melakukan pelatihan bagi operator yang dipilih agar bisa dan terbiasa dengan sistem kerja yang dilakukan.
5.       Melakukan pemisahan kegiatan sesuai yang ingin didapatkan.
6.      Menyiapkan peralatan yang diperlukan berupa papan atau lembaran pengamatan.
7.      Melakukan pemisahan kegiatan menjadi elemen–elemen pekerjaan yang akan diukur.
8.      Menentukan waktu pengamatan melalui bilangan acak dari tabel bilangan random atau dari komputer.
Kegunaan metode work sampling adalah:     
1.      Untuk mengetahui distribusi pemakaian waktu kerja oleh pekerja atau kelompok kerja.
2.      Untuk mengetahui tingkat pemanfaatan mesin-mesin atau peralatan kerja.
3.      Untuk menentukan waktu baku bagi pekerja-pekerja non-produksi.
4.      Untuk memperkirakan kelonggaran bagi suatu pekerjaan.
5.      Untuk mengetahui beban kerja dari pekerja non-produktif.
Adapun beberapa aplikasi dari metode sampling pekerjaan untuk berbagai kegiatan  antara lain sebagai berikut:
1.        Aplikasi sampling kerja untuk penetapan waktu baku.
2.        Aplikasi sampling kerja untuk penetapan waktu tunggu (delay allowance).
3.        Aplikasi sampling kerja untuk aktivitas perawatan (maintainance).
4.        Aplikasi sampling kerja untuk kegiatan perkantoran (office work).
Aplikasi sampling kerja untuk mengamati kegiatan pemimpin perusahaan.

Sampling Pendahuluan
Pada langkah ini dilakukan sejumlah pengamatan terhadap aktivitas kerja dari operator yang diamati untuk mengetahui sistem kerja terbaik dan mengetahui  selang waktu yang diambil secara acak. Untuk itu sebuah sampling pekerjaan juga menuntut penghitungan waktu baku penyelesaian suatu pekerjaan. Waktu yang akhirnya diperoleh setelah pengukuran selesai adalah waktu penyelesaian pekerjaan untuk sistem kerja yang dijalankan ketika pengukuran berlangsung. Jadi waktu penyesuaiannya juga hanya berlaku untuk sistem tersebut.  
Pada sampling pendahuluan juga dilakukan sejumlah kunjungan untuk mengetahui selang waktu (Dt) dari operator yang bekerja selama satu siklus pekerjaan. Dalam pengamatan ini juga dilakukan pemilihan operator yang bekerja normal untuk diamati pada pengamatan selanjutnya. Melalui penelitian ini akan diketahui total waktu kerja dari stasiun kerja operator yang bersangkutan yang selanjutnya ditentukan jam pengamatan sesuai dengan interval waktu dan waktu siklus serta jam istirahat untuk menentukan populasi pengamatan pekerjaan dan penentuan sampel pengamatan yang akan diamati. Atau jika memungkinkan, dilakukan pelatihan kepada operator untuk sistem kerja terbaik agar operator terbiasa dengan sistem kerja yang ada dan dapat mewakili pekerja lain yang tidak diamati.

Pengujian Keseragaman dan Kecukupan Data
 Pengujian keseragaman data adalah suatu pengujian yang berguna untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan berasal dari satu sistem yang sama. Melalui pengujian dapat mengetahui adanya perbedaan data di luar batas kendali (out of control) yang dapat digambarkan pada peta kontrol. Data-data yang demikian dibuang dan tidak dipergunakan dalam perhitungan selanjutnya. 

 Perhitungan Jumlah Pengamatan yang Diperlukan
Penetapan jumlah pengamatan yang dibutuhkan dalam aktivitas teknik sampling selama ini dikenal lewat formulasi-formulasi tertentu dengan mempertimbangkan dua faktor utama yaitu:
1.      Tingkat ketelitian (degree of accuracy) dari hasil pengamatan.
Tingkat ketelitian menunjukkan penyimpangan maksimum hasil pengukuran dari waktu penyelesaian sebenarnya.
2.      Tingkat keyakinan (level of convidence) dari hasil pengamatan.
Tingkat keyakinan menunjukkan seberapa besar keyakinan si pengukur bahwa hasil yang diperoleh memenuhi syarat ketelitian tadi.

Contohnya data dengan tingkat kepercayaan 95% dan tingkat ketelitian 5% artinya bahwa penyimpangan yang diperbolehkan dari rata-rata sebenarnya adalah sebesar 5% dan pengukur yakin bahwa data yang diperoleh itu benar sebesar 95%.
Apabila setelah dihitung, ternyata harga N’ lebih kecil daripada harga sebenarnya, maka pengamatan berhenti karena dianggap telah mencukupi. Sebaliknya jika harga N’ tersebut lebih besar dari harga sebenarnya, maka dilakukan langkah pengamatan dari awal. Frekuensi pengamatan pada hakikatnya tergantung pada jumlah pengamatan yang diperlukan dan waktu yang tersedia untuk pengumpulan data yang direncanakan

Tingkat Ketelitian dan Tingkat Keyakinan

Tingkat ketelitian menunjukkan penyimpangan maksimum hasil pengukuran dari waktu penyelesaian sebenarnya. Hal ini biasanya dinyatakan dalam persen (dari waktu penyelesaian sebenarnya,yang seharusnya dicari).
Sedangkan tingkat keyakinan menunjukkan besarnya keyakinan pengukur bahwa hasil yang diperoleh memenuhi syarat ketelitian tadi.
Jadi tingkat ketelitian 10% dan tingkat keyakinan 95% memberi arti bahwa pengukur memperbolehkan rata-rata hasil pengukurannya menyimpang sebesar 10% dari rata-rata sebenarnya dan kemungkinan mendapatkan hasil tersebut adalah 95%.Dengan kata lain jika pengukur sampai memperoleh rata-rata pengukuran yang menyimpang lebih dari 10% seharusnya, hal ini dibolehkan terjadi hanya dengan kemungkinan 5%.  
Mengenai pengaruh-pengaruh tingkat ketelitian dan keyakinan terhadap jumlah pengukuran yang diperlukan dapat dipelajari secara statistic. Akan tetapi, secara intuitif, hal ini dapat diduga yaitu bahwa semakin tinggi tingkat ketelitian dan semakin besar tingkat keyakinan, semakin banyak pengukuran yang diperlukan.